0

Setiap Tempat Adalah Sekolah. Setiap Orang Adalah Guru

          Judul tulisan ini meminjam dari pernyataan Mbak Vika Wisnu seorang penulis dan pemerhati pendidikan . di akun Facebooknya. Bahwa setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. 
Terus terang setelah membaca update status pada tanggal 12 Agustus lalu, saya merenung dan gelisah. gatel pengen nulis tentang pernyataan yang menggelitik itu. 

"Setiap tempat adalah sekolah"
Saya jadi ingat bahwa dimana saja , setiap anak bisa belajar (baca: sekolah). Bisa di sawah, di hutan atau di gunung atau di pasar sekalipun. Dimana anak berada, kita bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk memancing rasa ingin tahunya. Misalnya saat di pematang sawah, anak bisa kita kenalkan Komunitas di sawah apa saja. Ada tanya jawab yang menjadikan anak memahami sesuatu dengan gembira. Ketika kita ajak ke pasar, anak-anak bisa belajar Matematika. Belajar menghitung berapa jumlah total belanjaan yang sudah di bawa pulang.  
               Saya ingin berbagi pengalaman dengan anak saya Visi (kelas 5 SD) yang sedang menonton video ulang tahun NET 3.0 beberapa waktu lalu. Sebenarnya dia sudah pernah nonton LIVE di televisi. Tapi ingin nonton lagi di Youtube. Nah, saya pikir inilah saat yang tepat untuk menjelaskan tentang industri hiburan ini. Ada banyak pertanyaan yang terlontar dari Visi ( saya sudah lupa) , diantaranya : 
- Penyanyi yang manggung di bayar ya? Siapa yang bayarin?
Kalau sudah ada pertanyaan, berarti ada rasa ingin tahu yang harus di jawab. Saya jelaskan dengan panjang lebar bahwa semua acara di televisi didukung oleh iklan dan sponsor yang masuk. Semua harus dipersiapkan dengan baik. Mulai panggungnya , siapa saja yang mengisi panggung (termasuk presenter, penyanyi, penari, dan lainnya). Bayangkan ada banyak profesi bekerja sama dalam satu acara untuk membuat suatu sajian yang menghibur penonton. Ada penata musik, penata lampu, penata panggung, koreogrfer, dancer, tim kreatif, penyusun acara tim IT, makeup artist dan masih banyak lagi lainnya.  Menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak, akan membuat anak semakin senang untuk belajar . 



"Setiap Orang Adalah Guru"
Benarlah bahwa setiap orang adalah guru. Tentu dalam lingkaran yang positif. Guru yang memberikan masukan positif untuk pengambangan generasi yang akan datang. Orangtua bisa menjadi guru yang baik di rumah. Belajar apa saja yang bisa meningkatkan keterampilan motorik anak. Orangtua yang pandai memasak, bisa mengajarkan memasak pada anaknya sesuai kapasitasnya. Tidak mungkin anak kelas 2 SD kita ajarkan membuat masakan yang sulit-sulit - sayur lodeh, misalnya.
        Apakah setiap orang bisa menjadi guru? Jawabannya "BISA". Mungkin bukan menjadi guru pelajaran sekolah. Tapi bisa menjadi guru kehidupan. Setiap orang punya pengalaman hidup yang luar biasa. Pengalaman pahit dan manis akan selalu ada. Semakin kita punya teman banyak, akan semakin banyak pula pengalaman hidup yang kita punya. Pengalaman mereka adalah pelajaran yang berharga untuk dijadikan contoh supaya kita bisa melangkah lebih baik di masa yang akan datang. Orang-orang yang sukses, motivator, dan orang-orang yang inspiratif , bisa kita jadikan teman yang baik sekaligus guru yang baik. Mereka bukan saja pahm teori , tapi juga sudah mempraktikkan dengan baik.  
        Saya jadi ingat komik Ari Kriting bilang , " Di Papua , anak-anak tidak punya gedung sekolah bagus seperti di Jakarta. Anak-anak mainnya di sungai , di hutan. Di Jakarta anak-anak yang mau sekolah alam, bayarnya mahal. Gimana kalo diadakan pertukaran pelajar ? Anak Papua sekolah di Jakarta , anak Jakarta main ke Papua. Enak ,kan ?. Gratis. 
        Ya, anak-anak bisa sekolah dimana saja. Asal mereka happy, bisa memuaskan rasa ingin tahu mereka. Karena bekal kehidupan, bukan hanya angka-angka di rapor, tapi juga karakter yang baik , pengetahuan yang luas untuk berkompetisi menjadi orang yang berguna pada bangsa , agama dan lingkungannya. 
    
foto: poskotanews.com  : MAIN DI HUTAN



0 komentar:

Posting Komentar