Ingin segera berbagi tulisan saya sekitar setahun yang lalu (JP Radar Bromo) . Biar agak lama tapi masih bisa diaplikasikan pada anak-anak. Tak ada kata terlambat untuk terus belajar . Yuuk, silakan baca-baca :) Karena bakat anak adalah harta yang tak ternilai yang seharusnya dikembangkan semaksimal mungkin. Tak bijak kalau kita sudah tahu bakat anak, tapi tak memedulikannya . Yang ada pastilah penyesalan di belakang hari.
Ayo
, Peka Pada Bakat Anak
Bulan April identik dengan Hari
Kartini. Dan hari Kartini identik dengan perempuan. Lalu, apa yang harus kita
lakukan sebagai perempuan Indonesia masa kini? Isu-isu feminisme, persamaan
gender, persamaan hak dan kewajiban atau isu problema wanita karier atau
poligami, sepertinya menjadi masalah yang sudah terlalu sering dibicarakan.
Namun yang lebih penting untuk perempuan adalah menyiapkan anak-anak kita
menjadi generasi taqwa (takut pada Tuhannya), mandiri, kreatif, dan punya
keseimbangan antara otak kanan dan kiri. Ini sangat penting dalam menghadapai
jaman yang semakin kompetitif . Orang kreatif menjadi modal yang utama dalam
menapaki permasalahan kehidupan selanjutnya.
Tugas Perempuan
Tugas perempuan jaman sekarang lebih
berat? Jelas. Tidak ada yang bisa membantah opini itu. Menjadi ibu adalah
keniscayaan seorang perempuan yang sungguh sangat berat. Meski kadang ada
beberapa perempuan yang tidak punya keinginan menjadi seorang ibu. Jaman
sekarang, seorang ibu tidak hanya dituntut untuk menjalani peran mengurus Rumah
Tangga, suami, rumah dan mengurus anak-anak dari bangun tidur sampai tidur
lagi. Tapi lebih dari itu, juga harus bisa membantu menggali potensi anak sejak
dini. Namun apa yang terjadi saat ini? Sepertinya pengetahuan para ibu di
masyarakat kita masih minim tentang segala sesuatu terkait dengan potensi dan
bakat anak.
Contohnya, baru-baru ini ada seorang
ibu yang mempunyai anak TK yang sudah punya bakat menggambar yang luar biasa.
Pernah suatu hari dia melihat kejadian kecelakaan di jalan. Dan dengan
antusiasnya dia menceritakan kronologi kejadian kecelakaan itu dengan cara
menggambar , lengkap dengan gambar kendaraan , orang-orang di sekitarnya dan
kondisi jalanan pada saat kecelakaan terjadi. Dengan gambar yang sangat detail
dan sangat jelas. Tapi apa kenyataannya? Ibunya sama sekali tidak mendukung
bakat anaknya tersebut. Tidak pernah diikutkan ke lomba-lomba menggambar dan
mewarnai, atau lomba sejenis. Tidak pernah dibelikan crayon atau spidol untuk
latihan di rumah ( crayon hanya ada di sekolah), apalagi diikutkan kursus
menggambar atau mewarnai. Saat ditanya, mengapa tidak memberikan fasilitas
untuk anaknya yang punya bakat luar biasa seperti itu? Lalu apa jawabannya?
“Saya tidak mau anak saya menjadi pelukis”.
Jawaban yang sangat naïf dan sangat sempit sudut pandangnya. Namun itulah jawaban dari sebagian besar para
orangtua yang masih sempit wawasannya tentang seni dan imajinasi otak kanan. Keinginan
orangtua kebanyakan masih berkisar tentang “ sekolah yang tinggi”, lalu bekerja
di perusahaan yang bonafid atau menjadi pegawai negeri saja supaya aman.
