Apakah Semua Anak Harus Rangking Satu di Sekolah ?

     Musim ujian telah tiba. Dan sebentar lagi saatnya anak-anak menerima rapor dan kenaikan kelas. Banyak orangtua yang berharap bahwa anaknya bisa menjadi juara kelas. Bahwa nilai rapor adalah segala-galanya adalah anggapan dari banyak orang. Tapi apakah memang benar sebegitu penting sebuah rangking dan deretan angka-angka?
 
      Apakah ukuran pandai anak sekolah adalah rapor?
Jawabannya adalah tidak selalu. Tugas anak-anak adalah belajar. Tapi bukan berarti anak-anak harus jagoan di semua mata pelajaran (kalau tidak salah ada sepuluh mata pelajaran). Bandingkan dengan negara-negara  lain yang mata pelajarannya tidak sebanyak itu. Apakah anak yang rangking satu adalah anak pandai dan yang lainnya adalah anak bodoh? Belum tentu. Anak yang tidak menjadi rangking satu, bisa jadi mereka lebih pandai dalam hal ESQ (Kecerdasan Emosi dan Spiritual). Jadi, jangan sampai kita menganggap remeh anak-anak yang tidak menjadi rangking satu. Nilai-nilai dan angka yang tertulis di buku rapor, hanyalah sebuah ukuran untuk pada guru dalam memantau perkembangan anak didiknya.

 

     Apakah anak yang sukses adalah anak yang rangking satu?
Jawabannya sama sekali tidak. Rangking satu hanyalah sebuah bonus dari anak yang rajin belajar. Kalaupun tidak menjadi rangking satu, ya tidak masalah. Masih banyak bonus yang lain.Anak-anak bisa diberi hadiah liburan, tas baru atau jalan-jalan berdarmawisata.

     Kecerdasan anak-anak adalah majemuk. Tidak seharusnya kita menuntut anak menjadi rangking satu. Harus jenius menguasai semuanya. Padahal ada beberapa anak yang hanya menguasai satu atau beberapa mata pelajaran. Hanya jagoan matematika bahasa atau olahraga. Nah, anak yang seperti itu, harus kita dorong terus untuk mengembangkan bakat dan talentanya. Bukan harus menjadi rangking satu. Inilah kesalahan banyak orangtua.

     Apakah tujuan pendidikan itu?
Pada dasarnya tujuan umum dari sebuah sistem pendidikan adalah menjadikan anak-anak yang sholih dan sholihah , yang berguna bagi agama, bangsa dan lingkungannya. Bagaimana dengan anak-anak kita yang sudah lulus SMP atau SMA?  Apakah sudah termasuk sholih dan sholihah? Bagaimana sikap anak-anak kepada orangtuanya? Bagaimana cara bicara mereka kepada orang yang lebih tua? Bagaimana dengan moral dan religiusnya? Bagaimana dengan karakter dan kemandiriannya? Begitu banyak pertanyaan umum yang bisa kita lontarkan dan langsung bisa terjawab. Apakah sistem pendidikan kita sudah berhasil ?

     Musim kelulusan telah tiba. Musim wisuda dan musim kebingungan mencari sekolah-sekolah yang terbaik untuk anak. Apakah ananda sudah lulus TK, SD, SMP atau SMA, itu tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah kita merenung sejenak. Apakah hasil dari pendidikan anak-anak kita selama ini? Apakah hasil dari pengeluaran biaya sekolah yang tidak murah? Apakah anak-anak kita semakin sering membantu orangtua? Atau sebaliknya kita malah lebih sering dimarahi anak-anak? Apakah anak-anak menjadi sering menyuruh-nyuruh kita? Naudzubillah. Kata-kata yang keluar dari anak-anak kita adalah salah satu ukuran yang paling mudah kita gunakan. Apakah mereka menjadi anak yang sukses pendidikan atau tidak.
    
     Lalu, apa gunanya menjadi rangking satu di kelas, tapi kelakuan anak kita berubah menjadi setan lecil ketika di rumah? Sangat menyakitkan hati . Tidak pernah beribadah , tidak punya sopan santun dan tidak punya empati kepada orang-orang sekitar.
     Sekali lagi, rangking bukan segalanya. Anak yang punya ESQ yang baik, jauh lebih penting. Anak-anak yang menentramkan hati, punya sopan santun, anak-anak yang punya karakter dan prinsip hidup yang baik. Jadi , apakah anak kita sudah "sukses" dalam sekolahnya? Hanya kita sebagai orangtua yang bisa merasakan dan menjawab. Selamat mendidik anak-anak !

aulia
Rumah Bintang Konseling

    



  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar